Bisik

Bisik angin kali ini membuat aku kembali berpijak
Berpijak pada tanah yang pernah kita lalui bersama
Terkadang tak sengaja aku terbuai oleh sayangnya yang membuat aku lupa
Bahwa dia lah yang seharusnya melayang, bukan aku
Jaraknya yang jauh membuatku selalu berpikir “kamu berada dimana?”
Tapi pikiran ini tak pernah jadi sebuah perbuatan
Hanya sebuah gumaman yang tak tersampaikan
Tapi maaf tak kunjung terucap
Pernah ku melihat indahnya pelangi, tapi tak seindah matanya
Pernah ku mendengar indahnya kicauan burung pagi, tapi tak seindah bisiknya
Pernah ku merasa hangatnya perapian, tapi tak sehangat peluknya
Iya, semua hanya dia
Aku hanya ingin dia ada disini
Menerima maafku yang tak kunjung berubah
Menjadi yang dia minta
Menjadi yang dia ingin
Taman hati yang dia tanam kini sudah rimbun
Seindah taman surga
Kini semuanya menyejukan berada disini
Tak segersang dulu lagi
Percikan kasihnya membuatku siuman dari dera ku
Menghilangkan bekas kantung mata yang sudah kelam dan keriput
Membuatku kembali berdiri dan tersenyum saat fajar menyambut
Seakan luka lama itu hanya sebuah mimpi buruk yang berakhir
Dialah mentari
Dialah pelangi
Dialah puisi yang ku buat saat ku bersandar
Dialah alunan musik yang membawaku ke lelap tidurku
Aku rindu bisiknya, saat ku pura-pura terlelap
Aku rindu bisiknya, saat ku terjatuh
Aku rindu tawanya, saat canda mewarnai hariku
Aku rindu, segalanya
Semoga dia tidak pergi, meninggalkanku yang kini sudah bisa berdiri
Semoga aku tidak terjatuh lagi
Semoga dia terjaga dari marabahaya
Ketika aku jauh darinya
Selamat malam, pelangi
Selamat malam, mentari
Selamat malam, Niken Tri Hapsari

